Lionel Scaloni Kehabisan Kata-kata Melihat Keajaiban Lionel Messi Saat Argentina Hajar Aljazair

Penulis: centralgee

Lionel Scaloni Kehabisan Kata-kata Melihat Keajaiban Lionel Messi Saat Argentina Hajar Aljazair
Lionel Scaloni Kehabisan Kata-kata Melihat Keajaiban Lionel Messi Saat Argentina Hajar Aljazair

Lionel Messi kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Di saat banyak orang mulai bertanya sampai kapan dirinya bisa terus menjadi pusat permainan Argentina, sang kapten justru menjawabnya dengan cara paling indah: mencetak hat-trick dan membawa Argentina menghajar Aljazair dengan skor 3-0 di laga pembuka Grup J Piala Dunia 2026.

Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin pertama bagi Argentina. Lebih dari itu, pertandingan ini menjadi panggung besar yang kembali memperlihatkan bagaimana Messi masih memiliki sentuhan magis, insting tajam, dan pengaruh luar biasa terhadap permainan tim. Setiap kali bola berada di kakinya, suasana pertandingan berubah. Setiap pergerakannya membuat pertahanan Aljazair harus bekerja lebih keras. Dan setiap gol yang ia ciptakan terasa seperti babak baru dari cerita panjang seorang legenda.

Lionel Scaloni, pelatih Argentina, seolah kehabisan kata-kata melihat penampilan luar biasa pemain terbaiknya itu. Bukan karena ia tidak mengenal kualitas Messi, melainkan karena Messi terus saja memberikan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan logika sepak bola biasa. Di usia 38 tahun, ketika kebanyakan pemain mulai kehilangan ledakan dan konsistensi, Messi masih bisa menjadi pembeda utama di level tertinggi dunia.

Argentina Mengawali Turnamen dengan Sinyal Kuat

Sebagai juara bertahan, Argentina datang ke Piala Dunia 2026 dengan tekanan besar. Semua mata tertuju kepada mereka. Banyak yang ingin melihat apakah tim asuhan Lionel Scaloni masih memiliki rasa lapar yang sama seperti saat mereka menaklukkan dunia pada edisi sebelumnya. Melawan Aljazair, Argentina menjawab tekanan itu dengan performa yang matang, tenang, dan penuh keyakinan.

Sejak awal pertandingan, Argentina tampil dengan pendekatan yang jelas. Mereka tidak terburu-buru, tetapi tetap agresif saat menemukan ruang. Lini tengah bekerja rapi untuk menjaga aliran bola, sementara lini belakang tidak memberi banyak celah bagi Aljazair untuk berkembang. Di depan, semua kembali berpusat pada satu nama: Lionel Messi.

Argentina tidak hanya menang, tetapi juga menunjukkan karakter sebagai tim besar. Mereka mampu mengontrol tempo, membaca situasi, dan memanfaatkan momentum dengan sangat baik. Ketika Aljazair mencoba menekan, Argentina tidak panik. Ketika ruang terbuka, mereka langsung menghukum lawan dengan serangan yang efektif.

Kemenangan 3-0 ini menjadi awal yang sangat penting. Dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, laga pertama sering kali menentukan arah mental sebuah tim. Argentina pernah merasakan betapa beratnya ketika memulai turnamen dengan hasil kurang ideal. Kali ini, mereka tidak membiarkan hal itu terjadi.

Messi dan Malam yang Menolak Tua

Lionel Messi tampil seperti pemain yang tidak ingin tunduk kepada waktu. Di atas kertas, usianya sudah 38 tahun. Namun di atas lapangan, ia masih bergerak dengan kecerdasan, ketenangan, dan sentuhan yang sulit ditiru pemain lain. Ia tidak lagi selalu mengandalkan kecepatan eksplosif seperti masa mudanya, tetapi kecerdasannya dalam membaca permainan justru membuatnya semakin berbahaya.

Gol demi gol yang ia ciptakan melawan Aljazair menunjukkan paket lengkap seorang penyerang kelas dunia. Messi tahu kapan harus berada di ruang kosong, kapan harus menahan bola, kapan harus melepaskan tembakan, dan kapan harus mempercepat tempo serangan. Ia tidak perlu banyak gerakan berlebihan. Satu sentuhan kecil saja bisa mengubah arah pertandingan.

Hat-trick ini menjadi bukti bahwa Messi masih sangat relevan di panggung terbesar sepak bola. Ia bukan hanya simbol nostalgia bagi Argentina. Ia bukan hanya nama besar yang dibawa untuk kepentingan emosional. Ia masih menjadi pemain yang menentukan, masih menjadi ancaman utama, dan masih menjadi sosok yang membuat lawan kehilangan rasa nyaman.

Bagi para pendukung Argentina, melihat Messi mencetak tiga gol di laga sebesar ini tentu terasa emosional. Banyak yang sadar bahwa Piala Dunia 2026 mungkin menjadi salah satu panggung terakhir Messi bersama negaranya. Karena itu, setiap momen terasa lebih berharga. Setiap senyum, setiap selebrasi, dan setiap gol menjadi bagian dari kenangan yang ingin terus disimpan.

Scaloni Seolah Kehabisan Kata-kata

Lionel Scaloni sudah terlalu sering melihat Messi menciptakan keajaiban. Ia tahu bagaimana sang kapten bekerja, bagaimana ia memimpin tim, dan bagaimana ia mampu menentukan pertandingan hanya dari satu momen kecil. Namun, bahkan bagi Scaloni, apa yang dilakukan Messi melawan Aljazair tetap terasa luar biasa.

Pelatih Argentina itu tidak hanya melihat tiga gol. Ia melihat bagaimana Messi mengendalikan emosi tim, memberi rasa percaya diri kepada rekan-rekannya, dan membuat seluruh skuad bermain dengan keyakinan lebih besar. Messi bukan hanya pencetak gol. Ia adalah pusat ketenangan Argentina.

Ketika sebuah tim memiliki pemain seperti Messi, tekanan besar bisa terasa lebih ringan. Rekan-rekannya tahu bahwa selama sang kapten berada di lapangan, selalu ada kemungkinan terciptanya momen ajaib. Itulah yang membuat Argentina terlihat begitu nyaman meski membawa status juara bertahan.

Scaloni tentu memahami bahwa euforia tidak boleh membuat tim terlena. Piala Dunia adalah turnamen yang kejam. Satu kemenangan besar tidak menjamin perjalanan mudah. Namun, sulit untuk tidak merasa kagum ketika Messi kembali tampil seperti tokoh utama dalam cerita sepak bola dunia.

Hat-trick yang Lebih Besar dari Sekadar Angka

Dalam sepak bola, hat-trick selalu menjadi pencapaian istimewa. Namun, hat-trick Messi ke gawang Aljazair terasa jauh lebih besar dari sekadar statistik. Ini adalah hat-trick yang datang di panggung Piala Dunia, di usia 38 tahun, dalam pertandingan pembuka, dan saat Argentina sedang memulai misi mempertahankan mahkota dunia.

Tiga gol tersebut juga mempertegas status Messi sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah Piala Dunia. Ia tidak hanya hadir di banyak edisi turnamen, tetapi juga terus meninggalkan jejak besar di setiap era. Dari pemain muda penuh bakat hingga kapten senior yang memimpin generasi baru, perjalanan Messi bersama Argentina adalah kisah panjang tentang kesabaran, luka, kebangkitan, dan kejayaan.

Setiap gol melawan Aljazair seperti membawa makna berbeda. Gol pertama membuka jalan Argentina. Gol kedua memberi jarak aman. Gol ketiga menutup pertandingan dengan pesan jelas bahwa Messi belum selesai. Bagi lawan-lawan Argentina berikutnya, pesan itu sangat menakutkan.

Banyak pemain hebat mampu bersinar di usia muda. Banyak juga yang tetap bermain hingga usia tua. Namun sangat sedikit yang masih bisa menjadi penentu utama di Piala Dunia pada usia 38 tahun. Messi berada dalam kelompok langka itu. Ia bukan hanya bertahan di level tertinggi, tetapi masih menaklukkan level tersebut.

Aljazair Tidak Mampu Membendung Sihir Argentina

Aljazair datang dengan tekad besar untuk memberi perlawanan. Mereka mencoba tampil disiplin dan tidak membiarkan Argentina terlalu bebas menguasai area berbahaya. Namun menghadapi tim sekelas Argentina, terutama ketika Messi sedang berada dalam performa terbaik, rencana bertahan saja tidak cukup.

Beberapa kali Aljazair mencoba membangun serangan dan memanfaatkan transisi cepat. Mereka berusaha mencari celah di antara garis pertahanan Argentina. Namun, organisasi permainan Argentina membuat upaya itu sering terhenti sebelum benar-benar membahayakan.

Masalah terbesar Aljazair adalah mereka tidak mampu menghentikan koneksi antar pemain Argentina. Saat bola bergerak dari lini tengah ke area depan, Argentina selalu punya opsi. Messi bisa turun menjemput bola, bergerak melebar, atau tiba-tiba muncul di ruang yang tidak dijaga.

Aljazair akhirnya lebih banyak bereaksi daripada mengendalikan pertandingan. Mereka dipaksa mengikuti ritme Argentina. Ketika Argentina memperlambat tempo, Aljazair harus menunggu. Ketika Argentina mempercepat serangan, Aljazair harus bertahan dalam tekanan. Kondisi seperti itu membuat mereka sulit keluar dari tekanan mental.

Argentina Bukan Hanya Messi

Meski sorotan utama jelas tertuju kepada Lionel Messi, kemenangan Argentina tidak boleh dilihat sebagai kerja satu orang saja. Tim ini tetap menunjukkan struktur yang solid. Para pemain di sekitar Messi bekerja keras untuk menciptakan keseimbangan. Mereka memberi ruang bagi Messi untuk bersinar, sekaligus memastikan tim tidak kehilangan kontrol.

Lini tengah Argentina menjadi fondasi penting. Mereka menjaga bola, menutup ruang, dan membantu tim keluar dari tekanan. Peran para gelandang sangat penting karena mereka memungkinkan Messi menerima bola di area yang tepat. Tanpa dukungan itu, bahkan pemain sehebat Messi pun akan lebih sulit memberi dampak maksimal.

Di lini depan, pergerakan para penyerang Argentina juga membantu membuka ruang. Mereka menarik bek Aljazair, menciptakan jalur umpan, dan membuat pertahanan lawan tidak bisa hanya fokus kepada Messi. Inilah salah satu kekuatan Argentina era Scaloni: mereka tidak bergantung secara buta kepada satu pemain, tetapi tahu cara memaksimalkan pemain terbaik mereka.

Pertahanan Argentina juga layak mendapat kredit. Mereka menjaga konsentrasi sepanjang laga dan tidak memberi Aljazair banyak peluang bersih. Dalam turnamen besar, clean sheet bisa sama pentingnya dengan jumlah gol. Kemenangan 3-0 menunjukkan Argentina tajam di depan dan disiplin di belakang.

Messi sebagai Pemimpin Emosional

Salah satu hal yang paling menonjol dari Messi saat ini adalah caranya memimpin. Dulu, Messi sering dipandang sebagai pemain yang memimpin lewat aksi, bukan kata-kata. Kini, ia tetap memimpin lewat permainan, tetapi juga terlihat semakin nyaman menjadi pusat emosional tim.

Para pemain Argentina tampak memiliki ikatan kuat dengan Messi. Mereka tidak hanya menghormatinya sebagai legenda, tetapi juga merasa terlindungi oleh kehadirannya. Ketika Messi tampil bahagia, seluruh tim seperti ikut terbawa. Ketika Messi menekan lawan, pemain lain ikut menaikkan intensitas. Ketika Messi mencetak gol, energi Argentina meningkat berkali-kali lipat.

Inilah yang membuat Messi berbeda. Ia tidak harus berteriak sepanjang pertandingan untuk menunjukkan kepemimpinan. Cara ia meminta bola, cara ia mengatur tempo, dan cara ia tetap tenang dalam tekanan sudah cukup untuk mengirim pesan kepada rekan-rekannya.

Melawan Aljazair, kepemimpinan itu terlihat jelas. Messi tidak hanya mencari kejayaan pribadi. Ia bermain untuk tim, membuka ruang, membantu ritme permainan, dan tetap menjaga koneksi dengan pemain lain. Hat-trick yang ia cetak justru lahir dari pemahaman kolektif yang matang.

Rekor demi Rekor yang Mengiringi Keajaiban

Malam melawan Aljazair juga menjadi malam penuh catatan bersejarah bagi Messi. Ia tampil dalam caps ke-200 bersama Argentina, sebuah pencapaian yang sangat jarang dicapai pemain mana pun di level internasional. Angka itu menunjukkan bukan hanya kualitas, tetapi juga konsistensi, daya tahan, dan komitmen panjang terhadap negara.

Selain itu, Messi juga tampil di Piala Dunia keenam dalam kariernya. Ini adalah bukti perjalanan luar biasa seorang pemain yang sudah menjadi bagian dari berbagai generasi Argentina. Ia pernah datang sebagai talenta muda, pernah memikul beban besar tanpa gelar dunia, lalu akhirnya mengangkat trofi sebagai kapten. Kini, ia kembali datang sebagai legenda hidup yang masih lapar kemenangan.

Hat-trick melawan Aljazair juga membuat Messi menyamai rekor gol Piala Dunia yang sangat bergengsi. Catatan seperti ini semakin memperkuat posisinya dalam sejarah sepak bola. Namun, yang membuat Messi begitu istimewa bukan hanya jumlah golnya, melainkan cara ia mencetak gol-gol tersebut dan dampaknya terhadap perjalanan tim.

Rekor memang penting, tetapi bagi Messi, kemenangan Argentina tetap menjadi pusat segalanya. Itulah alasan mengapa banyak orang begitu menghormatinya. Ia mengejar sejarah, tetapi tidak pernah terlihat bermain hanya untuk angka pribadi. Ia mengejar kemenangan, dan rekor datang sebagai akibat dari kehebatannya.

Kansas City Menjadi Saksi Babak Baru Legenda Messi

Pertandingan di Kansas City menjadi salah satu malam yang akan dikenang oleh pendukung Argentina. Stadion dipenuhi atmosfer besar Piala Dunia. Warna biru-putih Argentina terlihat di banyak sudut. Nama Messi terus menggema, seolah semua orang memahami bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.

Sepak bola memiliki kemampuan menciptakan momen yang terasa lebih besar dari pertandingan itu sendiri. Malam Messi melawan Aljazair adalah salah satunya. Bagi sebagian penonton, ini mungkin hanya laga fase grup. Namun bagi banyak penggemar Argentina, ini adalah potongan sejarah.

Setiap kali Messi menyentuh bola, ada antisipasi. Setiap kali ia mendekati kotak penalti, ada ketegangan. Dan setiap kali ia mencetak gol, stadion berubah menjadi panggung perayaan. Tidak banyak pemain yang mampu menciptakan atmosfer seperti itu hanya dengan keberadaannya.

Kansas City mungkin akan dikenang sebagai tempat di mana Messi kembali menunjukkan bahwa cerita besarnya belum selesai. Meski sudah memenangkan hampir segalanya, ia masih terlihat seperti pemain yang ingin memberikan lebih banyak lagi.

Alasan Messi Masih Sulit Dihentikan

Banyak bek sudah mempelajari Messi selama bertahun-tahun. Mereka tahu kecenderungannya, tahu kaki kirinya, tahu caranya bergerak dari kanan ke tengah, dan tahu betapa berbahayanya ia di sekitar kotak penalti. Namun mengetahui tidak selalu berarti mampu menghentikan.

Messi sulit dihentikan karena ia tidak bergantung pada satu cara bermain. Jika diberi ruang, ia bisa menggiring bola. Jika ditutup rapat, ia bisa mengumpan. Jika lawan terlalu fokus kepadanya, ia bisa membuka ruang untuk rekan setim. Jika lawan lengah sedikit saja, ia bisa mencetak gol.

Kecerdasan inilah yang membuat Messi tetap berbahaya meski usianya tidak muda lagi. Ia tidak harus selalu berlari lebih cepat dari bek lawan. Ia hanya perlu berpikir lebih cepat. Dan dalam hal membaca permainan, Messi masih berada di level yang sangat sulit ditandingi.

Melawan Aljazair, hal itu terlihat berkali-kali. Ia tahu kapan harus memperlambat tempo agar rekan-rekannya naik. Ia tahu kapan harus mengambil posisi di antara bek. Ia tahu kapan harus melepaskan bola dan kapan harus menyelesaikan sendiri. Semua keputusan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat sulit dilakukan di bawah tekanan Piala Dunia.

Scaloni dan Sistem yang Membuat Messi Nyaman

Keberhasilan Argentina juga tidak bisa dilepaskan dari tangan Lionel Scaloni. Sejak mengambil alih tim, Scaloni berhasil membangun lingkungan yang membuat Messi merasa nyaman. Ia tidak memaksa Messi melakukan semuanya sendirian, tetapi juga tidak mengurangi kebebasan sang kapten untuk menentukan permainan.

Scaloni memahami bahwa Messi membutuhkan struktur di sekitarnya. Argentina harus cukup kuat untuk bertahan, cukup rapi untuk menguasai bola, dan cukup fleksibel untuk memberi Messi ruang berkreasi. Keseimbangan itu tidak mudah dibangun, tetapi Argentina terlihat semakin matang dalam menjalaninya.

Melawan Aljazair, sistem Scaloni berjalan efektif. Argentina tidak terlihat kacau saat menyerang. Mereka punya pola, tetapi tidak kaku. Mereka punya disiplin, tetapi tetap memberi kebebasan kepada pemain kreatif. Hasilnya adalah permainan yang mengalir dan sulit ditebak.

Inilah alasan mengapa Scaloni pantas mendapat pujian. Ia bukan hanya pelatih yang beruntung memiliki Messi. Ia adalah pelatih yang tahu cara memaksimalkan Messi tanpa membuat tim kehilangan identitas kolektif.

Efek Kemenangan Ini untuk Argentina

Kemenangan besar di laga pembuka memberi Argentina modal mental yang sangat penting. Mereka kini bisa menjalani laga berikutnya dengan rasa percaya diri lebih tinggi. Namun, di saat yang sama, mereka harus tetap menjaga kewaspadaan. Piala Dunia bukan turnamen yang bisa dimenangkan hanya dengan satu malam indah.

Argentina masih harus menghadapi tantangan berikutnya di Grup J. Setiap lawan akan belajar dari pertandingan melawan Aljazair. Mereka akan mencari cara untuk menutup ruang Messi, memotong aliran bola ke lini depan, dan memaksa Argentina bermain di luar zona nyaman.

Karena itu, Scaloni kemungkinan besar akan terus menekankan pentingnya fokus. Euforia boleh dirasakan, tetapi tidak boleh mengganggu konsentrasi. Tim juara adalah tim yang bisa menikmati kemenangan tanpa kehilangan rasa lapar.

Bagi Argentina, kemenangan 3-0 ini adalah awal yang ideal. Namun target mereka jauh lebih besar daripada sekadar menang di laga pertama. Mereka datang untuk mempertahankan status sebagai salah satu kandidat terkuat juara dunia.

Aljazair Harus Segera Bangkit

Bagi Aljazair, kekalahan dari Argentina tentu menjadi pukulan berat. Namun hasil ini tidak harus menjadi akhir dari perjalanan mereka. Menghadapi Argentina di laga pembuka memang bukan tugas mudah. Terlebih ketika Messi tampil dalam mode terbaiknya.

Aljazair perlu mengambil pelajaran dari pertandingan ini. Mereka harus lebih berani saat menguasai bola, lebih tajam dalam transisi, dan lebih efektif ketika mendapat peluang. Di turnamen seperti Piala Dunia, kesempatan tidak datang terlalu sering. Setiap momen harus dimanfaatkan.

Secara mental, Aljazair juga harus segera melupakan kekalahan ini. Grup masih berjalan, dan peluang masih bisa terbuka jika mereka mampu merespons dengan baik di pertandingan berikutnya. Banyak tim pernah kalah di laga awal, lalu bangkit dan memperbaiki posisi.

Namun satu hal jelas: melawan Argentina, mereka mendapat pelajaran langsung tentang standar tertinggi sepak bola dunia. Kesalahan kecil bisa dihukum. Ruang kecil bisa menjadi gol. Dan menghadapi Messi, satu detik lengah saja bisa mengubah segalanya.

Messi dan Hubungan Emosional dengan Argentina

Kisah Messi bersama Argentina tidak selalu indah. Ada masa ketika ia dikritik, dipertanyakan, bahkan dianggap tidak bisa memberikan kejayaan untuk negaranya. Ada final-final yang menyakitkan, ada air mata, dan ada momen ketika beban terasa terlalu berat.

Namun justru karena perjalanan itu panjang dan penuh luka, hubungan Messi dengan Argentina kini terasa sangat kuat. Ia bukan hanya pemain yang membawa kemenangan. Ia adalah simbol ketekunan. Ia adalah contoh bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir. Kadang, kegagalan adalah jalan panjang menuju momen yang lebih besar.

Setelah akhirnya meraih kejayaan bersama Argentina, Messi seperti bermain dengan beban yang lebih ringan. Ia tetap kompetitif, tetapi wajahnya terlihat lebih bebas. Ia tetap ingin menang, tetapi tidak lagi tampak dikejar oleh bayangan masa lalu.

Melawan Aljazair, kebahagiaan itu terasa. Setiap selebrasi Messi bukan hanya tentang gol, tetapi juga tentang rasa syukur. Para pendukung Argentina melihat pemain yang sudah memberikan begitu banyak, namun masih ingin memberi lebih.

Apakah Ini Piala Dunia Terakhir Messi?

Pertanyaan besar yang selalu muncul adalah apakah Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhir Lionel Messi. Tidak ada yang benar-benar tahu. Yang jelas, setiap pertandingan Messi di turnamen ini terasa seperti momen yang harus dinikmati.

Jika ini memang menjadi Piala Dunia terakhirnya, maka Messi memulainya dengan cara yang hampir sempurna. Hat-trick, kemenangan besar, rekor bersejarah, dan Argentina tampil meyakinkan. Tidak banyak pemain yang bisa menulis bab pembuka seindah itu di usia 38 tahun.

Namun Messi sendiri telah berkali-kali menunjukkan bahwa ia tidak bisa ditebak dengan ukuran normal. Ketika orang mengira ia akan menurun, ia menemukan cara baru untuk bersinar. Ketika orang mengira waktunya sudah habis, ia menciptakan malam seperti ini.

Karena itu, mungkin cara terbaik menikmati Messi saat ini bukan dengan terus bertanya kapan ia berhenti, tetapi dengan menyaksikan setiap momen yang masih ia berikan. Sepak bola tidak akan selamanya memiliki pemain seperti ini.

Argentina Masih Menjadi Kandidat Serius

Kemenangan atas Aljazair memperkuat pandangan bahwa Argentina masih menjadi kandidat serius di Piala Dunia 2026. Mereka memiliki pengalaman, kualitas individu, sistem permainan, dan mental juara. Kombinasi itu membuat mereka berbahaya bagi siapa pun.

Tentu perjalanan masih panjang. Banyak tim besar lain juga datang dengan ambisi tinggi. Turnamen ini akan menghadirkan tekanan, cedera, kartu, drama, dan kejutan. Namun Argentina memiliki sesuatu yang sangat penting: keyakinan bahwa mereka bisa mengatasi situasi sulit.

Selama Messi fit dan tim tetap solid, Argentina akan selalu menjadi ancaman. Bahkan ketika permainan tidak berjalan sempurna, mereka memiliki pemain yang bisa menyelesaikan masalah dalam satu sentuhan.

Itulah kemewahan yang dimiliki Scaloni. Ia punya sistem, tetapi juga punya keajaiban. Ia punya taktik, tetapi juga punya Messi. Dan dalam pertandingan besar, kombinasi antara struktur dan sihir sering kali menjadi pembeda.

Kesimpulan

Argentina memulai Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Aljazair. Namun cerita terbesar dari pertandingan ini tetap Lionel Messi. Sang kapten mencetak hat-trick, mencatat malam bersejarah, dan kembali membuat dunia sepak bola bertanya-tanya bagaimana mungkin ia masih sehebat ini.

Lionel Scaloni seolah kehabisan kata-kata melihat keajaiban Messi. Bukan karena ia tidak percaya, tetapi karena Messi terus melakukan hal-hal yang melampaui penjelasan biasa. Di usia 38 tahun, ia masih menjadi pusat permainan, pemimpin emosional, dan mesin kemenangan Argentina.

Bagi Argentina, kemenangan ini adalah awal yang sangat baik. Bagi Aljazair, ini adalah pelajaran keras. Bagi dunia sepak bola, ini adalah pengingat bahwa Lionel Messi belum selesai menulis sejarah.

Selama Messi masih berada di lapangan, selalu ada kemungkinan lahirnya keajaiban. Dan malam melawan Aljazair menjadi bukti terbaru bahwa legenda itu masih hidup, masih berbahaya, dan masih mampu membuat dunia terpukau.