Laga Portugal vs Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menghadirkan drama besar sampai detik-detik terakhir. Portugal menang 2-1 lewat gol Cristiano Ronaldo dan Goncalo Ramos, tetapi pertandingan ini hampir berubah total ketika Josko Gvardiol mencetak gol penyama kedudukan pada masa injury time.
Kroasia sempat merayakan gol tersebut dengan penuh emosi. Para pemain, staf, dan suporter mereka mengira skor berubah menjadi 2-2. Jika gol itu disahkan, laga kemungkinan besar akan berlanjut ke babak tambahan waktu. Namun, kegembiraan Kroasia hanya bertahan sebentar.
Wasit Espen Eskas kemudian menahan pertandingan dan menunggu pemeriksaan VAR. Setelah pengecekan berlangsung, gol Josko Gvardiol akhirnya dianulir. Keputusan itu langsung memicu protes dari kubu Kroasia karena situasinya terlihat sangat tipis dan tidak mudah dibaca dengan mata telanjang.
Lalu, kenapa gol menit akhir Josko Gvardiol ke gawang Portugal dianulir wasit? Jawabannya ada pada posisi Mario Pasalic dalam proses terciptanya gol. Teknologi pertandingan mendeteksi bahwa sebelum bola sampai kepada Pasalic, bola sempat tersentuh Igor Matanovic. Karena Pasalic berada dalam posisi offside saat sentuhan itu terjadi, maka aksinya dianggap aktif dalam permainan dan gol Gvardiol tidak bisa disahkan.
Kroasia Hampir Menyamakan Skor di Menit Akhir
Situasi terjadi ketika Kroasia sedang mati-matian mengejar gol penyama kedudukan. Mereka tertinggal 1-2 setelah Goncalo Ramos mencetak gol telat untuk Portugal. Dengan waktu yang semakin sempit, Kroasia mengirim banyak pemain ke area pertahanan Portugal.
Bola kemudian masuk ke kotak penalti Portugal. Dalam kerumunan pemain, bola bergerak cepat dan memantul dari beberapa arah. Josko Gvardiol akhirnya menyambar bola dan mengirimnya ke gawang Portugal.
Dari sudut pandang awal, gol itu terlihat sah. Gvardiol berada di area berbahaya dan berhasil menyelesaikan peluang dengan baik. Para pemain Kroasia langsung merayakan gol tersebut karena mereka merasa berhasil menyelamatkan diri dari kekalahan.
Namun, VAR melihat sesuatu yang tidak langsung terlihat jelas. Fokus pemeriksaan bukan hanya pada posisi Gvardiol saat mencetak gol, melainkan pada rangkaian sentuhan sebelum bola sampai kepada Mario Pasalic dan kemudian berujung pada peluang Gvardiol.
Masalah Utamanya Ada pada Posisi Mario Pasalic
Dalam proses gol tersebut, Mario Pasalic dinilai berada dalam posisi offside. Posisi itu menjadi penting karena ia dianggap terlibat aktif dalam fase serangan Kroasia sebelum bola akhirnya diselesaikan oleh Gvardiol.
Aturan offside tidak hanya berlaku untuk pemain yang langsung mencetak gol. Seorang pemain juga bisa dianggap offside jika ia berada dalam posisi terlarang dan ikut memengaruhi permainan, menerima bola, mengganggu lawan, atau terlibat dalam fase serangan yang menghasilkan gol.
Dalam kasus ini, Pasalic dinilai berada di posisi offside ketika bola terakhir kali tersentuh rekan setimnya. Jika bola tidak menyentuh pemain Kroasia sebelumnya, situasinya mungkin berbeda. Namun, teknologi mendeteksi adanya sentuhan dari Igor Matanovic sebelum bola mengarah ke Pasalic.
Karena itulah gol Gvardiol dianulir. Bukan karena penyelesaian Gvardiol bermasalah, melainkan karena fase serangan sebelumnya sudah dianggap tidak sah.
Teknologi Snicko Jadi Kunci Keputusan
Salah satu hal yang membuat keputusan ini menjadi perdebatan besar adalah peran teknologi. Laporan menyebut teknologi Snicko atau sensor bola yang tertanam dalam bola pertandingan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah bola sempat tersentuh pemain Kroasia.
Dengan mata telanjang, sentuhan kecil seperti itu sangat sulit dilihat. Bola bergerak cepat, pemain berada dalam kerumunan, dan situasi terjadi dalam tekanan tinggi. Namun, teknologi mampu mendeteksi getaran atau kontak halus yang terjadi pada bola.
Dalam momen ini, teknologi mendeteksi bahwa bola sempat mengenai Igor Matanovic sebelum bergerak ke arah Mario Pasalic. Sentuhan kecil itulah yang mengubah segalanya. Karena Pasalic berada dalam posisi offside saat sentuhan terjadi, keputusan wasit akhirnya mengarah pada pembatalan gol.
Inilah alasan mengapa para pemain Kroasia terlihat sangat kecewa. Bagi mereka, gol itu terasa sah secara visual. Namun, berdasarkan teknologi, proses sebelum gol sudah dianggap melanggar aturan offside.
Kenapa Gvardiol Tetap Tidak Bisa Dianggap Mencetak Gol Sah?
Banyak penonton mungkin bertanya: jika Gvardiol yang mencetak gol dan bukan Pasalic, kenapa golnya tetap dianulir? Jawabannya karena aturan sepak bola melihat satu rangkaian serangan secara utuh.
Jika dalam proses sebelum gol ada pemain yang berada dalam posisi offside dan terlibat aktif, maka gol yang terjadi setelahnya bisa dianulir. Artinya, wasit dan VAR tidak hanya melihat eksekusi terakhir, tetapi juga bagaimana bola sampai ke momen tersebut.
Pada kasus ini, Pasalic dianggap berada dalam posisi offside dan terlibat dalam permainan sebelum Gvardiol menyelesaikan peluang. Karena serangan itu sudah tercemar offside, maka gol yang lahir setelahnya tidak bisa disahkan.
Jadi, pembatalan gol bukan berarti Gvardiol melakukan pelanggaran. Ia hanya menjadi pemain yang menyelesaikan bola dari fase serangan yang sudah dinilai tidak sah.
VAR Membuat Emosi Kroasia Berubah dalam Sekejap
Momen ini menjadi sangat dramatis karena terjadi pada menit-menit terakhir. Kroasia berada di ambang kekalahan, lalu tiba-tiba merasa mendapatkan harapan baru melalui gol Gvardiol. Namun, harapan itu langsung hilang setelah VAR turun tangan.
Perubahan emosi seperti ini adalah salah satu sisi paling keras dari sepak bola modern. Sebuah tim bisa merayakan gol besar, tetapi dalam hitungan detik harus menerima kenyataan bahwa gol tersebut tidak sah.
Para pemain Kroasia terlihat frustrasi. Mereka merasa sudah melakukan usaha maksimal untuk memaksakan skor imbang. Namun, keputusan teknologi dan wasit membuat peluang mereka untuk bertahan di turnamen sirna.
Dari sisi Portugal, keputusan itu menjadi penyelamat besar. Jika gol Gvardiol disahkan, momentum bisa berbalik ke Kroasia. Portugal harus menghadapi babak tambahan waktu dengan tekanan mental yang sangat besar.
Portugal Selamat dari Drama Besar
Portugal akhirnya bertahan dan menang 2-1. Hasil ini membawa mereka lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Namun, kemenangan ini jelas tidak datang dengan mudah.
Kroasia lebih dulu unggul melalui Ivan Perisic pada menit ke-53. Portugal kemudian menyamakan kedudukan melalui penalti Cristiano Ronaldo pada menit ke-68. Gol tersebut menjadi sangat bersejarah karena merupakan gol pertama Ronaldo di fase gugur Piala Dunia.
Setelah itu, Goncalo Ramos muncul sebagai pahlawan dengan gol sundulan pada masa injury time. Portugal tampak sudah berada di jalur kemenangan, tetapi gol Gvardiol yang kemudian dianulir membuat akhir laga terasa sangat menegangkan.
Jika keputusan VAR berbeda, cerita pertandingan ini mungkin berubah total. Namun, pada akhirnya Portugal menjadi tim yang tersenyum, sementara Kroasia harus menerima kekalahan pahit.
Kroasia Merasa Dirugikan
Keputusan menganulir gol Gvardiol membuat kubu Kroasia merasa sangat kecewa. Pelatih Zlatko Dalic bahkan mengkritik kualitas kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut.
Kroasia merasa ada beberapa keputusan yang tidak menguntungkan mereka. Selain gol Gvardiol yang dianulir, laga ini juga diwarnai beberapa momen VAR lain yang membuat pertandingan terasa sangat kontroversial.
Namun, Dalic juga tidak sepenuhnya menjadikan wasit sebagai alasan kekalahan. Ia tetap mengakui bahwa Kroasia tidak tampil cukup baik pada beberapa fase pertandingan, terutama ketika Portugal menguasai permainan.
Meski begitu, sulit menghapus rasa pahit dari gol yang dianulir pada menit akhir. Dalam pertandingan knockout, satu keputusan seperti itu bisa menentukan nasib satu generasi pemain.
Roberto Martinez Membela Keputusan VAR
Dari kubu Portugal, Roberto Martinez membela keputusan wasit dan VAR. Ia menegaskan bahwa keputusan itu bukan sekadar keberuntungan bagi Portugal, melainkan hasil dari teknologi yang bekerja dengan akurat.
Martinez menilai sepak bola modern memang sudah bergerak ke arah penggunaan teknologi yang semakin detail. Jika sensor bola dan VAR menunjukkan adanya offside, maka keputusan tersebut harus diterima sebagai bagian dari permainan.
Pernyataan itu bisa dipahami dari sudut pandang Portugal. Mereka merasa keputusan VAR dibuat berdasarkan bukti teknis, bukan perasaan atau tekanan situasi.
Namun, bagi Kroasia, keputusan tersebut tetap menyakitkan. Teknologi mungkin benar secara aturan, tetapi secara emosional, kehilangan gol penyama kedudukan di menit akhir tetap terasa sangat berat.
Empat Gol Dianulir dalam Satu Pertandingan
Laga Portugal vs Kroasia menjadi semakin unik karena bukan hanya gol Gvardiol yang dianulir. Pertandingan ini diwarnai beberapa gol yang tidak disahkan, menjadikannya salah satu laga paling penuh drama VAR di Piala Dunia 2026.
Beberapa gol Kroasia tidak disahkan karena offside, sementara Portugal juga sempat mengalami gol yang dianulir. Situasi ini membuat pertandingan berjalan seperti roller coaster emosi.
Setiap kali bola masuk ke gawang, para pemain dan suporter tidak bisa langsung merasa aman. Mereka harus menunggu potensi pemeriksaan VAR. Hal ini membuat ritme pertandingan terasa berbeda dari sepak bola klasik.
Bagi sebagian orang, teknologi membuat sepak bola lebih adil. Namun, bagi sebagian lain, terlalu banyak intervensi VAR membuat emosi spontan dalam sepak bola terasa berkurang.
Aturan Offside dalam Kasus Gvardiol
Untuk memahami keputusan ini, penting melihat prinsip dasar aturan offside. Seorang pemain berada dalam posisi offside jika ia lebih dekat ke garis gawang lawan dibanding bola dan pemain bertahan terakhir kedua saat bola dimainkan oleh rekan setimnya.
Namun, berada dalam posisi offside saja belum otomatis menjadi pelanggaran. Pelanggaran baru terjadi jika pemain tersebut ikut aktif dalam permainan. Misalnya menerima bola, mengganggu lawan, atau mendapat keuntungan dari posisinya.
Dalam kasus gol Gvardiol, Pasalic dianggap mendapat keuntungan dari posisinya setelah bola tersentuh Matanovic. Karena ia terlibat dalam fase serangan, posisinya dianggap aktif dan membuat gol berikutnya tidak sah.
Itulah alasan teknis yang membuat wasit menganulir gol tersebut. Keputusan ini sangat tipis, tetapi dalam aturan modern, offside sekecil apa pun tetap bisa membatalkan gol.
Kenapa Teknologi Bisa Mendeteksi Sentuhan Kecil?
Bola pertandingan modern dilengkapi teknologi yang mampu membantu wasit dalam mengambil keputusan. Sensor di dalam bola bisa mendeteksi kontak halus ketika bola menyentuh pemain.
Dalam situasi seperti gol Gvardiol, teknologi ini sangat berguna karena kontak bola dengan pemain terjadi sangat cepat dan sulit dilihat kamera biasa. Dengan bantuan sensor, VAR bisa mengetahui apakah ada sentuhan sebelum bola sampai ke pemain yang berada dalam posisi offside.
Jika tidak ada teknologi tersebut, keputusan mungkin akan jauh lebih sulit. Wasit bisa saja menganggap tidak ada sentuhan dan gol disahkan. Namun, dengan data tambahan, VAR punya dasar lebih kuat untuk menyarankan pembatalan gol.
Inilah yang membuat sepak bola modern semakin detail. Keputusan tidak lagi hanya bergantung pada penglihatan manusia, tetapi juga pada data teknologi.
Apakah Keputusan Wasit Sudah Tepat?
Secara aturan, jika benar bola menyentuh Igor Matanovic dan Mario Pasalic berada dalam posisi offside saat sentuhan itu terjadi, maka keputusan menganulir gol Gvardiol bisa dianggap tepat.
Namun, secara emosional, keputusan ini tetap sulit diterima oleh Kroasia. Mereka mencetak gol pada momen krusial, merayakannya, lalu harus melihat gol itu dibatalkan karena detail yang sangat kecil.
Dalam sepak bola, dua hal ini sering bertabrakan. Secara teknis, keputusan bisa benar. Namun, secara rasa, keputusan itu bisa terasa kejam.
Itulah yang terjadi dalam laga Portugal vs Kroasia. VAR mungkin menjalankan aturan dengan tepat, tetapi tetap meninggalkan kontroversi karena dampaknya sangat besar.
Dampak Besar untuk Kroasia
Gol yang dianulir itu menjadi salah satu momen paling menentukan bagi Kroasia. Jika gol Gvardiol disahkan, skor menjadi 2-2 dan pertandingan bisa masuk babak tambahan waktu.
Pada saat itu, momentum kemungkinan akan berada di pihak Kroasia. Portugal baru saja kebobolan di menit akhir dan harus menghadapi tekanan mental besar. Sebaliknya, Kroasia akan mendapatkan energi baru.
Namun, karena gol dianulir, Kroasia kehilangan kesempatan itu. Mereka tidak punya cukup waktu untuk membangun serangan baru. Portugal bertahan sampai peluit akhir dan memastikan kemenangan.
Kekalahan ini terasa semakin pahit karena bisa menjadi akhir perjalanan beberapa pemain senior Kroasia di Piala Dunia, termasuk Luka Modric. Generasi emas Kroasia harus pulang setelah laga yang dipenuhi drama.
Dampak Besar untuk Portugal
Bagi Portugal, keputusan ini sangat menentukan. Mereka lolos ke babak 16 besar dan menjaga mimpi untuk melangkah jauh di Piala Dunia 2026.
Kemenangan atas Kroasia juga memperpanjang cerita Cristiano Ronaldo di turnamen ini. Ronaldo mencetak sejarah lewat gol pertamanya di fase gugur Piala Dunia, sementara Goncalo Ramos membuktikan diri sebagai penyerang yang bisa menjadi pembeda.
Namun, Portugal juga harus sadar bahwa mereka hampir kehilangan kemenangan. Gol Gvardiol yang dianulir menunjukkan bahwa pertahanan mereka masih bisa goyah pada momen akhir.
Di babak berikutnya, Portugal harus lebih tenang dan lebih rapi. Mereka tidak bisa terus bergantung pada VAR atau detail kecil untuk bertahan dalam turnamen.
Portugal Akan Menghadapi Spanyol
Setelah melewati Kroasia, Portugal akan menghadapi Spanyol di babak 16 besar. Laga ini akan menjadi duel besar antarnegara tetangga dan salah satu pertandingan paling panas di fase tersebut.
Spanyol datang dengan performa meyakinkan setelah menang 3-0 atas Austria. Mereka tampil dominan, belum kebobolan, dan memiliki banyak pemain muda berbahaya.
Portugal tidak boleh mengulang kesalahan yang hampir membuat mereka dihukum Kroasia. Melawan Spanyol, detail kecil bisa kembali menentukan. Bedanya, Spanyol mungkin akan jauh lebih klinis dalam memanfaatkan celah.
Karena itu, kemenangan dramatis atas Kroasia harus menjadi pelajaran besar. Portugal lolos, tetapi mereka harus meningkatkan konsentrasi jika ingin bertahan lebih lama.
Kontroversi VAR Akan Terus Dibahas
Gol Gvardiol yang dianulir kemungkinan akan terus menjadi bahan pembicaraan. Bagi pendukung Portugal, keputusan itu adalah bukti bahwa teknologi membantu menegakkan aturan. Bagi pendukung Kroasia, keputusan itu terasa seperti momen kejam yang menghapus peluang besar mereka.
Perdebatan seperti ini bukan hal baru dalam sepak bola modern. VAR memang dirancang untuk mengurangi kesalahan besar, tetapi tidak selalu menghapus kontroversi. Justru dalam beberapa kasus, VAR membuka perdebatan baru tentang batas antara keadilan teknis dan rasa permainan.
Kasus Gvardiol menjadi contoh nyata. Secara teknologi, offside bisa terdeteksi. Namun, bagi banyak penonton, pembatalan gol karena detail super tipis tetap terasa sulit diterima.
Sepak bola kini berada di era ketika emosi dan teknologi berjalan berdampingan. Gol Gvardiol menjadi salah satu momen yang menunjukkan betapa besar pengaruh teknologi dalam menentukan nasib sebuah tim.
Kesimpulan
Gol menit akhir Josko Gvardiol ke gawang Portugal dianulir karena Mario Pasalic dinilai berada dalam posisi offside dalam proses serangan Kroasia. Teknologi sensor bola mendeteksi bahwa bola sempat tersentuh Igor Matanovic sebelum mengarah ke Pasalic. Karena Pasalic berada dalam posisi offside saat sentuhan itu terjadi dan terlibat aktif dalam permainan, gol Gvardiol tidak bisa disahkan.
Keputusan ini membuat Kroasia gagal menyamakan skor menjadi 2-2. Portugal tetap unggul 2-1 sampai akhir pertandingan dan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Secara aturan, keputusan VAR bisa dijelaskan melalui prinsip offside. Namun, secara emosional, momen itu sangat menyakitkan bagi Kroasia karena terjadi di menit-menit terakhir laga knockout.
Laga Portugal vs Kroasia akhirnya dikenang bukan hanya karena gol Ronaldo dan pahlawan Goncalo Ramos, tetapi juga karena drama gol Gvardiol yang dianulir. Sebuah momen kecil, satu sentuhan tipis, dan satu garis offside mengubah nasib dua negara di Piala Dunia.

