RocketLiveScore
LoginSign Up
LIVE3
HARI INI24
MENDATANG18
LIGA TERPANTAU87

Finis Peringkat 17 Premier League, Kok Tottenham Bisa Jorjoran di Bursa Transfer Awal Musim 2026/2027?

Penulis: centralgee

Finis Peringkat 17 Premier League, Kok Tottenham Bisa Jorjoran di Bursa Transfer Awal Musim 2026/2027?
Finis Peringkat 17 Premier League, Kok Tottenham Bisa Jorjoran di Bursa Transfer Awal Musim 2026/2027?

Tottenham Hotspur menjadi salah satu klub yang paling mencuri perhatian di bursa transfer awal musim 2026/2027. Bagaimana tidak, klub London Utara tersebut baru saja melewati musim yang sangat buruk di Premier League, bahkan hanya finis di peringkat 17 dan nyaris terjerumus ke zona degradasi.

Dalam kondisi normal, klub yang finis satu tingkat di atas zona merah biasanya akan lebih berhati-hati dalam belanja pemain. Mereka akan mengatur ulang anggaran, menyeimbangkan neraca keuangan, dan menghindari risiko besar di pasar transfer.

Namun, Tottenham justru mengambil langkah sebaliknya. Spurs bergerak sangat agresif. Mereka mendatangkan pemain-pemain mahal, membangun ulang lini tengah, memperkuat pertahanan, dan bahkan masih dikaitkan dengan sejumlah target besar lain.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin Tottenham yang finis di posisi 17 Premier League bisa tetap jorjoran di bursa transfer? Jawabannya tidak sesederhana โ€œpunya uang banyakโ€. Ada kombinasi antara aturan finansial baru, pendapatan klub, strategi amortisasi, dan kebutuhan olahraga yang sangat mendesak.

Tottenham Finis Peringkat 17, Tapi Bukan Klub Kecil

Hal pertama yang harus dipahami adalah posisi akhir di liga tidak selalu mencerminkan kekuatan ekonomi sebuah klub. Tottenham memang finis di peringkat 17 Premier League, tetapi secara struktur bisnis, mereka tetap salah satu klub terbesar di Inggris.

Spurs memiliki stadion modern, basis pendukung global, pendapatan komersial besar, dan daya tarik sebagai klub Premier League. Semua faktor itu membuat Tottenham tetap memiliki kapasitas finansial yang jauh lebih besar dibandingkan banyak klub papan bawah lainnya.

Inilah yang membedakan Tottenham dari klub yang benar-benar kecil secara ekonomi. Mereka bisa saja terpuruk secara performa, tetapi fondasi bisnis klub tetap kuat. Selama tidak terdegradasi, pendapatan mereka tetap berada di level tinggi.

Jadi, meski finis di posisi 17 terlihat memalukan secara olahraga, Tottenham tidak otomatis berubah menjadi klub miskin. Mereka masih punya ruang untuk bergerak, terutama jika manajemen merasa belanja besar adalah satu-satunya cara untuk menghindari krisis yang lebih dalam.

Aturan Squad Cost Ratio Jadi Kunci

Salah satu alasan utama Tottenham bisa bergerak agresif adalah perubahan sistem finansial Premier League. Mulai musim 2026/2027, Premier League menggunakan pendekatan Squad Cost Ratio atau SCR.

Dalam sistem ini, klub diperbolehkan menghabiskan hingga 85 persen dari pendapatan sepak bola mereka untuk biaya skuad. Biaya skuad tersebut mencakup gaji pemain, amortisasi transfer, serta biaya agen.

Dengan kata lain, batas belanja klub tidak hanya dilihat dari posisi akhir klasemen, tetapi dari seberapa besar pendapatan yang mereka hasilkan. Karena Tottenham memiliki pendapatan besar, ruang belanja mereka juga ikut besar.

Inilah alasan mengapa Spurs bisa tetap agresif meski performa liga mereka buruk. Selama rasio biaya skuad masih berada dalam batas yang diizinkan, klub masih bisa melakukan transfer mahal.

Pendapatan Tottenham Masih Sangat Besar

Tottenham melaporkan total revenue dan other income sebesar 565,3 juta poundsterling untuk tahun finansial yang berakhir pada 30 Juni 2025. Angka ini sangat besar dan menunjukkan bahwa Spurs masih memiliki mesin bisnis yang kuat.

Pendapatan tersebut didorong oleh performa di kompetisi Eropa, kekuatan komersial, penjualan merchandise, sponsorship, dan aktivitas stadion. Tottenham Hotspur Stadium bukan hanya tempat pertandingan, tetapi juga aset komersial besar yang bisa menghasilkan pemasukan dari berbagai acara.

Karena itulah posisi 17 di Premier League tidak langsung membuat Tottenham kehilangan daya belanja. Selama revenue masih besar, Spurs tetap punya ruang untuk memperbaiki skuad.

Bahkan, bagi manajemen klub, belanja besar bisa dianggap sebagai langkah proteksi. Setelah nyaris terdegradasi, Tottenham tidak boleh mengulang musim buruk yang sama. Mereka harus memperbaiki kualitas tim secepat mungkin.

Transfer Mahal Tidak Selalu Dibayar Sekaligus

Banyak orang melihat angka transfer besar dan langsung mengira klub membayar semuanya dalam satu waktu. Padahal, dalam akuntansi sepak bola, biaya transfer biasanya diamortisasi sepanjang durasi kontrak pemain.

Misalnya sebuah klub membeli pemain dengan nilai 100 juta poundsterling dan memberi kontrak lima tahun. Dalam laporan keuangan, biaya transfer itu bisa dibagi menjadi 20 juta poundsterling per tahun untuk kebutuhan perhitungan biaya skuad.

Sistem amortisasi inilah yang membuat klub besar bisa bergerak lebih fleksibel di pasar transfer. Mereka tetap harus membayar uang transfer sesuai kesepakatan, tetapi beban akuntansinya tidak selalu langsung muncul penuh dalam satu musim.

Tottenham memanfaatkan logika ini. Transfer besar seperti Sandro Tonali dan Mateus Fernandes terlihat sangat mahal di permukaan, tetapi dalam perhitungan SCR, beban tahunannya akan bergantung pada struktur kontrak dan durasi kesepakatan.

Sandro Tonali Jadi Simbol Ambisi Baru

Transfer Sandro Tonali menjadi simbol paling jelas dari ambisi baru Tottenham. Spurs mendatangkan gelandang Italia tersebut dari Newcastle United dalam kesepakatan yang bisa mencapai 100 juta poundsterling.

Angka itu menjadikan Tonali sebagai salah satu pembelian terbesar dalam sejarah Tottenham. Keputusan ini jelas bukan transfer biasa. Spurs ingin mengirim pesan bahwa mereka tidak hanya ingin bertahan di Premier League, tetapi ingin kembali bersaing di papan atas.

Tonali adalah gelandang dengan kualitas tinggi. Ia bisa memberi agresivitas, kontrol tempo, kemampuan bertahan, dan pengalaman di level elite. Bagi Roberto De Zerbi, pemain seperti Tonali sangat cocok untuk membangun ulang identitas permainan.

Tottenham membutuhkan pemimpin baru di lini tengah. Musim lalu, salah satu masalah besar mereka adalah kurangnya kontrol dalam pertandingan. Kehadiran Tonali diharapkan bisa memberi fondasi yang lebih kuat.

Mateus Fernandes Juga Jadi Investasi Besar

Selain Tonali, Tottenham juga membuat gebrakan dengan mendatangkan Mateus Fernandes dari West Ham United. Nilai transfernya dilaporkan mencapai 85 juta poundsterling, angka yang sangat besar untuk pemain yang masih terus berkembang.

Transfer Fernandes menunjukkan bahwa Tottenham tidak hanya mencari pemain berpengalaman, tetapi juga pemain yang bisa menjadi bagian dari proyek jangka panjang.

Fernandes memiliki profil gelandang modern. Ia bisa membawa bola, membantu pressing, menghubungkan lini tengah dengan lini serang, dan memberi energi besar dalam sistem yang menuntut intensitas tinggi.

Jika Tonali adalah simbol kepemimpinan dan pengalaman, Fernandes bisa menjadi simbol masa depan. Kombinasi keduanya memberi Tottenham wajah baru di lini tengah.

Roberto De Zerbi Punya Pengaruh Besar

Faktor Roberto De Zerbi juga tidak bisa diabaikan. Pelatih asal Italia itu menjadi salah satu alasan Tottenham berani membangun ulang skuad dengan cara agresif.

De Zerbi dikenal sebagai pelatih yang punya ide permainan jelas. Ia ingin timnya berani menguasai bola, membangun serangan dari belakang, menekan dengan koordinasi, dan bermain dengan struktur yang rapi.

Namun, untuk menjalankan gaya seperti itu, De Zerbi membutuhkan pemain yang sesuai. Ia membutuhkan gelandang yang nyaman menerima bola dalam tekanan, bek yang bisa mengalirkan bola, dan penyerang yang paham ruang.

Karena itu, belanja besar Tottenham bukan hanya soal membeli nama besar. Ini adalah upaya menyesuaikan skuad dengan ide pelatih baru. Jika klub ingin De Zerbi sukses, mereka harus memberinya pemain yang cocok.

Musim Lalu Jadi Alarm Bahaya

Finis di peringkat 17 bukan sekadar hasil buruk. Itu adalah alarm bahaya. Tottenham nyaris kehilangan status sebagai klub Premier League, sesuatu yang akan membawa dampak finansial sangat besar.

Jika terdegradasi, Tottenham bisa kehilangan pendapatan besar dari hak siar, sponsor, matchday, dan eksposur global. Karena itu, musim buruk kemarin membuat manajemen harus bergerak cepat.

Belanja besar bisa dilihat sebagai bentuk respons darurat. Tottenham tidak ingin hanya melakukan perbaikan kecil. Mereka ingin melakukan perombakan serius agar tim tidak kembali berada dalam situasi berbahaya.

Dalam konteks ini, jorjoran di bursa transfer bukan sekadar ambisi, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap aset klub. Spurs tidak boleh kembali mendekati zona degradasi.

Tottenham Masih Punya Daya Tarik

Meski musim lalu sangat buruk, Tottenham tetap punya daya tarik di mata pemain. Mereka bermain di Premier League, memiliki stadion megah, tinggal di London, dan menawarkan proyek baru di bawah pelatih terkenal.

Bagi beberapa pemain, Tottenham masih terlihat sebagai klub besar yang sedang mencoba bangkit. Situasi seperti ini bisa menarik, terutama jika pemain percaya bahwa proyek baru tersebut akan memberi mereka peran penting.

Sandro Tonali, misalnya, disebut tertarik dengan visi Roberto De Zerbi. Ini menunjukkan bahwa faktor pelatih dan proyek olahraga bisa menjadi senjata Tottenham di pasar transfer.

Jadi, meski tidak bermain di papan atas musim lalu, Spurs masih bisa meyakinkan pemain besar untuk datang. Mereka menjual ide kebangkitan, bukan sekadar posisi klasemen.

Stadion Jadi Mesin Uang

Tottenham Hotspur Stadium menjadi salah satu alasan klub ini punya kapasitas finansial besar. Stadion tersebut bukan hanya digunakan untuk pertandingan sepak bola, tetapi juga untuk berbagai acara komersial.

Konser, pertandingan NFL, event hiburan, dan aktivitas non-sepak bola lain bisa menambah pendapatan klub. Ini membuat Tottenham memiliki model bisnis yang lebih luas dibandingkan klub yang hanya bergantung pada tiket pertandingan dan hak siar.

Dalam era SCR, pendapatan seperti ini sangat penting. Semakin besar pemasukan klub, semakin besar pula ruang yang bisa digunakan untuk biaya skuad.

Itulah kenapa Tottenham bisa tetap belanja besar walaupun performa domestik sedang buruk. Mesin bisnis mereka tidak sepenuhnya berhenti hanya karena posisi liga mengecewakan.

Belanja Besar Tidak Berarti Tanpa Risiko

Meski Tottenham punya alasan finansial untuk jorjoran, strategi ini tetap membawa risiko besar. Belanja mahal tidak selalu menjamin kesuksesan di lapangan.

Tottenham sudah beberapa kali mengeluarkan uang besar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi hasilnya tidak selalu sepadan. Masalah mereka bukan hanya kurang pemain mahal, tetapi juga struktur olahraga yang belum stabil.

Jika pemain baru gagal beradaptasi, tekanan akan semakin besar. Tonali dan Fernandes datang dengan harga tinggi. Artinya, ekspektasi terhadap mereka juga sangat tinggi.

Jika Tottenham kembali tampil buruk, belanja besar ini bisa berubah menjadi beban. Gaji tinggi, amortisasi besar, dan tekanan finansial bisa menjadi masalah di masa depan.

SCR Memberi Ruang, Bukan Jaminan Aman

Squad Cost Ratio memberi ruang bagi Tottenham untuk belanja, tetapi bukan berarti klub bisa bebas tanpa batas. Mereka tetap harus menjaga rasio biaya skuad agar tidak melewati batas.

Gaji pemain baru, biaya transfer yang diamortisasi, dan komisi agen semuanya akan masuk dalam perhitungan. Jika Tottenham terlalu agresif tanpa kendali, mereka bisa menghadapi masalah di kemudian hari.

Karena itu, manajemen harus sangat cermat. Mereka harus memastikan pemain yang datang benar-benar meningkatkan kualitas skuad, bukan sekadar menambah nama besar.

Dalam sistem baru ini, kesalahan transfer bisa terasa lebih mahal. Pemain gagal dengan kontrak panjang bisa membebani ruang belanja selama beberapa musim.

Tottenham Membangun Ulang Lini Tengah

Salah satu fokus utama Tottenham terlihat jelas: lini tengah. Kedatangan Tonali dan Fernandes menunjukkan bahwa De Zerbi ingin membangun pusat permainan baru.

Lini tengah adalah jantung dari gaya bermain De Zerbi. Ia membutuhkan pemain yang bisa menerima bola dalam tekanan, memancing pressing lawan, lalu mengalirkan bola ke ruang kosong.

Musim lalu, Tottenham sering kesulitan menjaga kontrol. Mereka mudah kehilangan ritme, mudah ditekan, dan tidak selalu mampu mengendalikan pertandingan.

Dengan Tonali dan Fernandes, Spurs berharap bisa memiliki lini tengah yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih agresif. Ini adalah fondasi penting jika mereka ingin bangkit.

Transfer Besar Adalah Pesan untuk Fans

Setelah musim yang buruk, fans Tottenham tentu kecewa. Finis di peringkat 17 adalah pukulan besar bagi klub sebesar Spurs.

Belanja besar di awal musim bisa dilihat sebagai pesan kepada fans bahwa klub tidak tinggal diam. Manajemen ingin menunjukkan bahwa mereka serius memperbaiki keadaan.

Transfer Tonali dan Fernandes memberi harapan baru. Fans bisa melihat bahwa klub sedang mencoba membangun ulang skuad dengan ambisi besar.

Namun, fans juga akan menuntut hasil. Belanja besar harus diikuti peningkatan performa. Jika tidak, tekanan kepada manajemen dan pelatih akan semakin besar.

De Zerbi Butuh Waktu, Tapi Tidak Banyak

Roberto De Zerbi mungkin membutuhkan waktu untuk membentuk Tottenham sesuai visinya. Namun, setelah belanja besar, waktu yang diberikan publik biasanya tidak terlalu panjang.

Spurs harus menunjukkan progres sejak awal musim. Mereka tidak harus langsung menjadi penantang gelar, tetapi setidaknya harus jauh dari zona degradasi dan kembali terlihat sebagai tim yang kompetitif.

Jika Tottenham kembali memulai musim dengan buruk, pertanyaan besar akan langsung muncul. Apakah belanja besar ini tepat? Apakah De Zerbi benar-benar cocok? Apakah klub sudah salah mengambil arah?

Karena itu, awal musim 2026/2027 akan menjadi sangat penting. Tottenham harus membuktikan bahwa uang besar yang mereka keluarkan memang membawa perubahan nyata.

Kenapa Tottenham Bisa Jorjoran?

Secara sederhana, ada beberapa alasan mengapa Tottenham bisa tetap jorjoran meski finis di peringkat 17 Premier League.

  • Tottenham masih memiliki pendapatan besar dari stadion, komersial, sponsorship, dan aktivitas non-sepak bola.
  • Aturan Squad Cost Ratio memberi ruang belanja berdasarkan pendapatan, bukan hanya posisi klasemen.
  • Biaya transfer bisa diamortisasi sepanjang kontrak pemain, sehingga beban tahunannya tidak langsung penuh.
  • Klub merasa harus melakukan perombakan besar setelah musim yang nyaris berakhir dengan degradasi.
  • Roberto De Zerbi membutuhkan pemain yang sesuai dengan sistem permainannya.
  • Tottenham masih punya daya tarik sebagai klub besar Premier League yang berbasis di London.
  • Belanja besar menjadi cara klub mengirim pesan optimisme kepada fans dan pasar.

Apakah Strategi Ini Masuk Akal?

Strategi Tottenham bisa dibilang masuk akal jika dilihat dari kebutuhan olahraga. Mereka baru saja melalui musim yang sangat buruk. Jika tidak memperbaiki skuad, risiko terulangnya musim buruk akan tetap besar.

Membeli pemain seperti Tonali dan Fernandes bisa memberi peningkatan kualitas yang signifikan. Keduanya bisa menjadi fondasi baru untuk proyek De Zerbi.

Namun, strategi ini hanya akan terlihat benar jika hasil di lapangan membaik. Dalam sepak bola, belanja besar selalu dinilai dari output. Jika Tottenham naik drastis di klasemen, keputusan ini akan dipuji.

Sebaliknya, jika Spurs tetap terpuruk, belanja besar ini bisa dianggap sebagai bentuk kepanikan. Itulah risiko besar yang harus ditanggung manajemen.

Tottenham Harus Lebih Pintar daripada Sekadar Mahal

Pelajaran terbesar dari bursa transfer modern adalah harga mahal tidak selalu berarti transfer sukses. Tottenham harus memastikan setiap pemain yang datang sesuai kebutuhan taktik, mental, dan struktur skuad.

Tonali dan Fernandes terlihat cocok untuk membangun ulang lini tengah. Namun, Spurs juga harus memperkuat area lain secara cerdas. Pertahanan, sayap, dan penyerang juga membutuhkan perhatian.

Jika belanja dilakukan hanya karena panik, hasilnya bisa berbahaya. Namun jika dilakukan berdasarkan rencana yang jelas, Tottenham bisa benar-benar bangkit.

Kuncinya ada pada eksekusi. Pemain yang dibeli harus cocok, pelatih harus mampu mengembangkan mereka, dan manajemen harus menjaga keseimbangan finansial.

Target Realistis Tottenham Musim 2026/2027

Setelah finis di peringkat 17, target realistis Tottenham musim 2026/2027 adalah kembali stabil. Mereka harus menjauh dari zona degradasi dan membangun fondasi permainan yang jelas.

Jika proyek De Zerbi berjalan cepat, Spurs bisa menargetkan finis di papan tengah atas. Namun, untuk langsung masuk empat besar mungkin terlalu ambisius, mengingat trauma musim sebelumnya cukup besar.

Tottenham harus melangkah bertahap. Pertama, memperbaiki struktur permainan. Kedua, membangun kepercayaan diri. Ketiga, mengembalikan aura stadion kandang. Keempat, baru berbicara tentang kembali ke Eropa.

Belanja besar memberi mereka alat untuk bangkit, tetapi perjalanan menuju stabilitas tetap membutuhkan waktu.

Tekanan untuk Manajemen Semakin Besar

Dengan transfer mahal, tekanan kepada manajemen Tottenham juga meningkat. Mereka tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan kurang kualitas.

Jika klub sudah menghabiskan uang besar, fans akan menuntut hasil besar. Manajemen harus memastikan semua keputusan transfer benar-benar membantu tim.

Selain itu, struktur gaji juga harus dijaga. Pemain mahal biasanya datang dengan gaji tinggi. Jika tidak dikendalikan, ruang finansial klub bisa menyempit.

Tottenham harus membuktikan bahwa jorjoran kali ini bukan sekadar reaksi emosional, tetapi bagian dari strategi yang matang.

Kritik Tetap Wajar

Meski ada alasan finansial dan taktik di balik belanja besar Tottenham, kritik tetap wajar muncul. Banyak pihak bertanya mengapa klub yang gagal total musim lalu justru langsung berani mengeluarkan dana raksasa.

Pertanyaan itu valid. Tottenham harus menjawabnya di lapangan. Tidak ada penjelasan finansial yang bisa sepenuhnya meredam kritik jika hasil pertandingan tetap buruk.

Premier League adalah liga yang sangat kompetitif. Klub-klub lain juga berbenah. Belanja besar hanya memberi peluang, bukan jaminan.

Karena itu, Tottenham harus bekerja lebih keras. Mereka tidak hanya harus membeli pemain bagus, tetapi juga membangun tim yang benar-benar berfungsi.

Kesimpulan

Tottenham Hotspur memang finis di peringkat 17 Premier League, tetapi mereka tetap bisa jorjoran di bursa transfer awal musim 2026/2027 karena masih memiliki kekuatan finansial besar. Pendapatan tinggi, stadion modern, aktivitas komersial, dan aturan baru Squad Cost Ratio memberi Spurs ruang untuk bergerak agresif.

Transfer Sandro Tonali dan Mateus Fernandes menjadi bukti bahwa Tottenham sedang membangun ulang skuad secara serius. Roberto De Zerbi membutuhkan pemain yang sesuai dengan ide permainannya, dan manajemen tampaknya siap mendukung proyek tersebut.

Namun, belanja besar tetap membawa risiko. Tottenham harus memastikan setiap transfer benar-benar memberi dampak. Jika pemain baru gagal beradaptasi, beban finansial dan tekanan publik bisa menjadi masalah besar.

Pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan โ€œkok Tottenham bisa jorjoran?โ€ ada pada kombinasi pendapatan besar, regulasi finansial baru, amortisasi transfer, dan kebutuhan mendesak untuk bangkit. Tetapi apakah strategi ini sukses atau tidak, hanya bisa dibuktikan di lapangan pada musim 2026/2027.

ScoresMatchTableProfile